Powered by Blogger.

Pondok dan Halaman Tempat Bercerita :)

-Khairiah_p- Virtual Home

Karena kusanggup, walau ku tak mau..

Berdiri sendiri tanpamu..

Ku mau kau tak usah ragu..

Tinggalkan aku..

Kalau memang harus begitu..

(Agnes Monica-Karena Ku Sanggup)


Penjelasanmu yang dangkal tentang kenapa aku harus bisa berdiri sendiri tanpamu masih terpatri jelas dalam ingatan. Rasanya wajahku ini tak pernah kering dari airmata, meski pagi selalu datang dengan matahari yang sahaja pada embun pagi. Hatiku masih saja sepi dimakan sakit hati, dan tubuhku ini kehilangan kekebalannya sampai tak mampu lagi kutahan dingin hanya dengan senyuman. Tiba-tiba kamar mandi ini laksana lautan es yang membekukan tubuhku, gemertakan gigiku beradu dengan kepala yang rasanya berkerut-kerut. Aku bisa mati disini, batinku. Buru-buru kuselesaikan aktivitas mandiku yang tidak lengkap lalu aku berjingkat ke kamar dengan baju tidur tipis tanpa lengan.
Kutarik selimut sampai dagu dan kutindih kepalaku dengan bantal biar hangat mengaliri tubuh dengan sempurna. Namun dalam beberapa detik tenggorokanku seperti tercekat, perutku mual sekali, dan aku ingin mati rasanya. Aku butuh pelukanmu, Yo’.
Tindakan kecil sejuta makna yang dulu selalu kamu lakukan tiap aku menangis setelah kau marahi. Kita memang terlalu menjiwai peran sebagai pasangan sado-masokis mungkin. Kamu puas menyakitiku, dan aku puas disakiti olehmu. Syarafku hampir tersumbat. Tak bisa lagi kurasakan bahagia yang dirasakan kebanyakan orang. Biar begitu, tak pernah sedikitpun terbesit dalam kepalaku untuk pergi meninggalkan kamu. Seperti ayah tak pernah meninggalkan ibu. Seperti langit tak pernah marah pada petir yang meledak-ledak meski ia harus kehilangan reputasi baiknya dihadapan penghuni bumi. Urat marahku tak sepeka dulu lagi sejak kuputuskan mengabdi padamu dalam cinta sado-masokis, Yo’.

Tangisku belum usai. Dibawah bantal aku sesenggukan sambil meniupi telapak tanganku yang pucat—berharap hangat nafasku menjalar sampai ujung jari kaki. Sesak sekali dadaku. Kata-katamu kuurai satu-satu, berharap aku bisa mengerti kenapa kamu meninggalkan aku secepat ini. Tidak. Aku tidak mengerti. Aku tidak sedikitpun mau mengerti. Kesetiaanku jauh lebih agung bila dibandingkan kesetiaan kayu pada api yang akhirnya hanya menjadikannya abu. Kamu tidak pantas meninggalkan aku dengan cara ini.


6 tahun kemudian,


Dear, Yo’.. Yo’ tadi sore kulihat kamu duduk sendirian di warung kopi dekat kantormu sambil mendekap tas. Senang rasanya mengetahui kamu masih sama seperti dulu, tak pernah menyambangi Starbucks dan semacamnya. Kamu tampak lebih berantakan dari enam tahun lalu. Apakah tidak ada perempuan lain yang mengurusmu setelah aku kau tinggalkan?

Meski begitu, ketampananmu tak luntur Yo’ dan bisa kurasakan lagi bagaimana tubuhmu pernah mendekapku dengan penuh cinta. Kamu memujaku seperti dewi dan kamu tanamkan ribuan keyakinan yang mempengaruhi pemikiran-pemikiranku pada dunia. Yo’, kamulah pria paling sempurna yang pernah kutemui. Tak satupun bisa menggantikanmu.

Lama sekali aku tertegun. Ingin aku mengalahkan spasi antara kita yang tak lebih dari lima meter lalu menyapamu sambil tersenyum. Namun ada belukar yang seolah-olah menjeratku. Belukar itu adalah kewaspadaan dan ketakutan tak rasional akan sebuah kehilangan. Rupanya mencintaimu dengan cara seperti ini pun sanggup kulakukan Yo’. Apakah aku masih tak pantas untuk kamu perjuangkan? Sedang di luar sana aku sendiri tak yakin ada perempuan lain yang melakukannya.

Kamu mematik korek apimu lalu menghisap rokokmu dalam-dalam. Seorang pria disebelahmu yang dari tadi menanti api akhirnya permisi untuk memintamu berbagi. Kamu menarik bibirmu sedikit. Itu senyum. Ya aku tahu itu senyum tapi kamu tak pernah menariknya lebih lebar. “Terima kasih, mas” kata pria itu dan kamu hanya mengangguk tanpa menatap mata lawan bicaramu. Kamu bahkan masih sedingin itu Yo’..

Akhirnya aku membuntuti kamu pulang. Kamu jalan kaki menuju rumah mungilmu yang diapit toko roti dan sebuah rumah yang belum selesai di bangun. Rumah yang dulu pernah kita bangun dalam angan-angan itu rupanya sudah kamu bangun sendiri Yo’. Rumah dengan perpustakaan mini untuk anak-anakmu biar mereka tidak jadi korban keganasan kuntilanak yang suka memangsa para artis.

Air mataku menitik. Ingin aku berlari dan membenamkan wajah pada punggungmu yang dilapisi jeket kotak kotak hitam itu.
Lagi-lagi belukar itu menahanku lebih erat dari sebelumnya.
Dan tiba-tiba pintu rumahmu terbuka. Seorang perempuan yang kukenal keluar dari sana, menggendong seorang anak laki-laki. Mantan pacarmu.
"Ayah pulang” katanya. Kamu hanya diam dan berjalan masuk melewati mereka tanpa kata-kata. Tapi perempuan itu dengan cerianya berdendang sambil mendekap anaknya lalu membuntutimu sebelum akhirnya pintu tertutup. Sempurna Yo’. Tubuhku lemas setengah mati, lalu aku berbalik pulang dengan airmata menggenang di pelupuk. Nafasku memburu. Aku menjerit sekerasnya di tengah jalanan sepi. Dan tiba-tiba hembusan angin hadir disusul hujan deras.


***


“Mbak iyah, apakah yang tertulis dalam novel anda merupakan kisah nyata?” tanya seorang wartawan.
“Bukan. Itu fiksi, murni fiksi” jawabku tenang.
Dan tiba-tiba mataku beradu dengan mata seseorang yang berdiri kaku di antara gerombolan pengunjung. Matamu. Dan untuk pertama kalinya setelah perpisahan kita yang panjang, aku melihatmu tersenyum padaku sambil mengacungkan jempol. Lega sekali rasanya.

“Lalu siapa Yo’ yang anda tulis di halaman persembahan?”

“Kekasih hati saya. Dia sudah meninggal, Sudah lama meninggal ”

Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
Rumah yang sederhana, khas bangunan lama . dibelakang komplek perumahan, masih dikelilingi pepohonan, seperti hutan, berjalan sedikit ketimur ada bukit tak terlalu tinggi tapi cukup sejuk menentramkan pemandangan disiang hari yang terik. Rumah tanpa pagar dengan lantai batu dan jendela teralis besi. dengan Gorden baru berwarna biru langit  bercampur putih.

Pada teras nya terdapat dua kursi kayu, dan pot pot yang berjejeran merekah ditangkainya Mawar mawar Kuning  , ruangan untuk tamu yang juga sederhana dengan kursi model lama dan meja yang rendah berbagi tempat dengan televisi, dan speker .Dua kamar disebelah kanan, berurut. Satu pintunya tertutup tirai.

Dua orang perempuan yang lebih muda dari pemilik rumah,menuruni kendaraan mereka dan bergegas masuk. Satu diantaranya berteriak “kakak, kami datang !!”
Hujan manghambur deras seketika, beruntunglah mereka berdua telah tiba.
Perempuan biasa berkulit sawo matang itu membukakan pintu, dengan celemek hijau menutupi tubuhnya. “wuihhh masak dia, asiiiikkkkk” “hemmmmm wangi nian kak”

Bergegas yang disebut tamu melangkahkan kaki menuju dapur, apa yang telah dimasak tuan rumah untuk mereka. Dapur yang lapang dengan dinding kayu, terkesan kosong hanya dengan meja berukuran sedang dan dua kursi lipat. Dapur basah dan rak piring berjajar pada dinding sebelah kanan.
Sayur kangkung tumis  di kuali, ikan goreng di atas meja beserta beberapa potong tempe. Tuan rumah melanjutkan mengupas kacang goreng, hendak membuat bumbu petisan.
Tambahan ruangan setelah dapur, tetap lebar dan berdinding kayu. Dua ember cucian yang sedang direndam, barang barang tak terpakai di pojok kiri dan sumur besar melangkapi ruang belakang dengan pintu teralis besi. Terlihat pepohonan diluar.

“abang mane ?? ” tanya salah seorang tamu
“begawe” sahut tuan rumah
“sabtu dak libur, aok’
“aok”
“kalo malem malem romantis ya kak, bedue bae. Banyak suara jangkrik pule.. Syahdu ey”
“iya donk” semunya memerah

Cinta yang sederhana,seperti bangunan rumah ini. tapi kakak terlihat sangat bahagia, bahagia pada dapur dan masakan yang seadanya, bahagia pada rendaman cucian yang menunggunya, Bahagia pada kembang kembang mawar yang mekar dihalaman, Bahagia pada pagi pagi bekerja yang tergesa, pada sabtu waktu mengurus rumah, pada minggu yang akan dihabiskan sepenuh nya berdua dengan abang.

Sederhana, seperti minim nya perabot dan kosong ruangan yang menunggu kumpulan uang untuk dibelikan barang. Seperi selembar kain merah yang menghias pintu tamu mereka, tanda pengantin baru bagi pemilik rumah.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

Seorang Isteri dan Ibu biasa biasa saja, Bekerja Sebagai Ibu Rumah Tangga dan Akuntan BUMN , Welcome to My Virtual Home :)

TIME

Ikuti Kami di Medsos Lain yah !

  • Apresiasi Sastra
  • Blog Puisi
  • dakwah Muslimah
  • facebook
  • Google+
  • instagram
  • My Facebook
  • pinterest
  • Tanya Jawab Masalah Islam
  • twitter
  • youtube

Categories

  • Cerita Kehamilan
  • Cerita Keluarga
  • FIKSI
  • Menuju Jalan Menyetia
  • TAMBAHKAN CINTA

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • November 2018 (1)
  • September 2018 (1)
  • December 2013 (1)
  • May 2013 (5)
  • April 2013 (1)
  • March 2013 (2)
  • December 2012 (2)
  • October 2012 (2)
  • September 2012 (2)
  • July 2012 (1)
  • April 2012 (1)
  • February 2012 (1)
  • December 2011 (1)
  • November 2011 (7)
  • October 2011 (1)
  • September 2011 (1)
  • August 2011 (1)
  • July 2011 (7)
  • April 2011 (1)
  • March 2011 (1)
  • February 2011 (1)
  • January 2011 (1)
  • December 2010 (3)
  • November 2010 (3)
  • October 2010 (3)
  • September 2010 (4)
  • August 2010 (13)
  • July 2010 (12)
  • June 2010 (24)
  • May 2010 (26)
  • April 2010 (32)
  • March 2010 (19)
  • February 2010 (7)
  • January 2010 (1)
  • December 2009 (3)
  • November 2009 (3)
  • July 2009 (1)
  • April 2009 (3)
  • March 2009 (20)
  • February 2009 (2)
  • January 2009 (1)
  • December 2008 (5)
  • November 2008 (11)
  • March 2008 (1)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates