Powered by Blogger.

Pondok dan Halaman Tempat Bercerita :)

-Khairiah_p- Virtual Home

Rindu itu beban, yang menggelayut pada lengan detik. Enggan berputar. Dan waktu perlahan menghabisimu.
Rindu itu kobaran api, dan hanya kau yang bisa memadamkan
Rindu itu belantara, silahkan tersesat hingga kau menemukannya.
Rindu itu, susunan aksara yang tersimpan di kepala. Barisan kalimat yang menunggu menyusuri ruang dengarmu
Rindu itu sebilah pisau, perlahan mengiris hatimu selapis demi selapis. Hingga sampai ke ukuran tertipis.
Rindu itu nafas yang patah, menanti angin bisikmu untuk menyambungnya lagi.
Rindu itu segelas anggur, pengganti mineral agar sejenak bisa mengaburkan bayanganmu
Rindu adalah mesin waktu, mengembalikan aku pada kenangan tentangmu.
Rindu itu kelengahanku, kau bisa saja membunuhku saat itu.
Rindu, aku harap kau punya tanggal kadaluwarsa. Membatasiku, berhenti membayangkanmu.
Rindu itu, perkaraku dengan waktu. Saat kau hilang dari pandanganku.
Rindu itu batu nisanku, saat kau pergi membawa nafasku.
Rindu itu perjuangan, melalui badai waktu tanpa genggaman tanganmu.
Rindu itu sepi dan batasnya adalah segaris cakrawala senyummu yang tertangkap retinaku.
Kamu, debu terhebat dalam otakku. Dan rindu, menambah sulaman jaring laba-laba di sudut hatiku. Jadilah otak dan hatiku ini ruang kusam tempat bersarang rindu dan debu yang bernama memori. Mereka menunggu bayangmu untuk dinaungi.
Rindu itu 1sdm harapan, 2 sdm pilu, kau aduk bersama air kenangan. Dan kau telan dalam keadaan dingin.
rindu itu barisan doa, agar Sang pemilik waktu mendengar dan melindungimu kapanpun itu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Karena kusanggup, walau ku tak mau..

Berdiri sendiri tanpamu..

Ku mau kau tak usah ragu..

Tinggalkan aku..

Kalau memang harus begitu..

(Agnes Monica-Karena Ku Sanggup)


Penjelasanmu yang dangkal tentang kenapa aku harus bisa berdiri sendiri tanpamu masih terpatri jelas dalam ingatan. Rasanya wajahku ini tak pernah kering dari airmata, meski pagi selalu datang dengan matahari yang sahaja pada embun pagi. Hatiku masih saja sepi dimakan sakit hati, dan tubuhku ini kehilangan kekebalannya sampai tak mampu lagi kutahan dingin hanya dengan senyuman. Tiba-tiba kamar mandi ini laksana lautan es yang membekukan tubuhku, gemertakan gigiku beradu dengan kepala yang rasanya berkerut-kerut. Aku bisa mati disini, batinku. Buru-buru kuselesaikan aktivitas mandiku yang tidak lengkap lalu aku berjingkat ke kamar dengan baju tidur tipis tanpa lengan.
Kutarik selimut sampai dagu dan kutindih kepalaku dengan bantal biar hangat mengaliri tubuh dengan sempurna. Namun dalam beberapa detik tenggorokanku seperti tercekat, perutku mual sekali, dan aku ingin mati rasanya. Aku butuh pelukanmu, Yo’.
Tindakan kecil sejuta makna yang dulu selalu kamu lakukan tiap aku menangis setelah kau marahi. Kita memang terlalu menjiwai peran sebagai pasangan sado-masokis mungkin. Kamu puas menyakitiku, dan aku puas disakiti olehmu. Syarafku hampir tersumbat. Tak bisa lagi kurasakan bahagia yang dirasakan kebanyakan orang. Biar begitu, tak pernah sedikitpun terbesit dalam kepalaku untuk pergi meninggalkan kamu. Seperti ayah tak pernah meninggalkan ibu. Seperti langit tak pernah marah pada petir yang meledak-ledak meski ia harus kehilangan reputasi baiknya dihadapan penghuni bumi. Urat marahku tak sepeka dulu lagi sejak kuputuskan mengabdi padamu dalam cinta sado-masokis, Yo’.

Tangisku belum usai. Dibawah bantal aku sesenggukan sambil meniupi telapak tanganku yang pucat—berharap hangat nafasku menjalar sampai ujung jari kaki. Sesak sekali dadaku. Kata-katamu kuurai satu-satu, berharap aku bisa mengerti kenapa kamu meninggalkan aku secepat ini. Tidak. Aku tidak mengerti. Aku tidak sedikitpun mau mengerti. Kesetiaanku jauh lebih agung bila dibandingkan kesetiaan kayu pada api yang akhirnya hanya menjadikannya abu. Kamu tidak pantas meninggalkan aku dengan cara ini.


6 tahun kemudian,


Dear, Yo’.. Yo’ tadi sore kulihat kamu duduk sendirian di warung kopi dekat kantormu sambil mendekap tas. Senang rasanya mengetahui kamu masih sama seperti dulu, tak pernah menyambangi Starbucks dan semacamnya. Kamu tampak lebih berantakan dari enam tahun lalu. Apakah tidak ada perempuan lain yang mengurusmu setelah aku kau tinggalkan?

Meski begitu, ketampananmu tak luntur Yo’ dan bisa kurasakan lagi bagaimana tubuhmu pernah mendekapku dengan penuh cinta. Kamu memujaku seperti dewi dan kamu tanamkan ribuan keyakinan yang mempengaruhi pemikiran-pemikiranku pada dunia. Yo’, kamulah pria paling sempurna yang pernah kutemui. Tak satupun bisa menggantikanmu.

Lama sekali aku tertegun. Ingin aku mengalahkan spasi antara kita yang tak lebih dari lima meter lalu menyapamu sambil tersenyum. Namun ada belukar yang seolah-olah menjeratku. Belukar itu adalah kewaspadaan dan ketakutan tak rasional akan sebuah kehilangan. Rupanya mencintaimu dengan cara seperti ini pun sanggup kulakukan Yo’. Apakah aku masih tak pantas untuk kamu perjuangkan? Sedang di luar sana aku sendiri tak yakin ada perempuan lain yang melakukannya.

Kamu mematik korek apimu lalu menghisap rokokmu dalam-dalam. Seorang pria disebelahmu yang dari tadi menanti api akhirnya permisi untuk memintamu berbagi. Kamu menarik bibirmu sedikit. Itu senyum. Ya aku tahu itu senyum tapi kamu tak pernah menariknya lebih lebar. “Terima kasih, mas” kata pria itu dan kamu hanya mengangguk tanpa menatap mata lawan bicaramu. Kamu bahkan masih sedingin itu Yo’..

Akhirnya aku membuntuti kamu pulang. Kamu jalan kaki menuju rumah mungilmu yang diapit toko roti dan sebuah rumah yang belum selesai di bangun. Rumah yang dulu pernah kita bangun dalam angan-angan itu rupanya sudah kamu bangun sendiri Yo’. Rumah dengan perpustakaan mini untuk anak-anakmu biar mereka tidak jadi korban keganasan kuntilanak yang suka memangsa para artis.

Air mataku menitik. Ingin aku berlari dan membenamkan wajah pada punggungmu yang dilapisi jeket kotak kotak hitam itu.
Lagi-lagi belukar itu menahanku lebih erat dari sebelumnya.
Dan tiba-tiba pintu rumahmu terbuka. Seorang perempuan yang kukenal keluar dari sana, menggendong seorang anak laki-laki. Mantan pacarmu.
"Ayah pulang” katanya. Kamu hanya diam dan berjalan masuk melewati mereka tanpa kata-kata. Tapi perempuan itu dengan cerianya berdendang sambil mendekap anaknya lalu membuntutimu sebelum akhirnya pintu tertutup. Sempurna Yo’. Tubuhku lemas setengah mati, lalu aku berbalik pulang dengan airmata menggenang di pelupuk. Nafasku memburu. Aku menjerit sekerasnya di tengah jalanan sepi. Dan tiba-tiba hembusan angin hadir disusul hujan deras.


***


“Mbak iyah, apakah yang tertulis dalam novel anda merupakan kisah nyata?” tanya seorang wartawan.
“Bukan. Itu fiksi, murni fiksi” jawabku tenang.
Dan tiba-tiba mataku beradu dengan mata seseorang yang berdiri kaku di antara gerombolan pengunjung. Matamu. Dan untuk pertama kalinya setelah perpisahan kita yang panjang, aku melihatmu tersenyum padaku sambil mengacungkan jempol. Lega sekali rasanya.

“Lalu siapa Yo’ yang anda tulis di halaman persembahan?”

“Kekasih hati saya. Dia sudah meninggal, Sudah lama meninggal ”

Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
Rumah yang sederhana, khas bangunan lama . dibelakang komplek perumahan, masih dikelilingi pepohonan, seperti hutan, berjalan sedikit ketimur ada bukit tak terlalu tinggi tapi cukup sejuk menentramkan pemandangan disiang hari yang terik. Rumah tanpa pagar dengan lantai batu dan jendela teralis besi. dengan Gorden baru berwarna biru langit  bercampur putih.

Pada teras nya terdapat dua kursi kayu, dan pot pot yang berjejeran merekah ditangkainya Mawar mawar Kuning  , ruangan untuk tamu yang juga sederhana dengan kursi model lama dan meja yang rendah berbagi tempat dengan televisi, dan speker .Dua kamar disebelah kanan, berurut. Satu pintunya tertutup tirai.

Dua orang perempuan yang lebih muda dari pemilik rumah,menuruni kendaraan mereka dan bergegas masuk. Satu diantaranya berteriak “kakak, kami datang !!”
Hujan manghambur deras seketika, beruntunglah mereka berdua telah tiba.
Perempuan biasa berkulit sawo matang itu membukakan pintu, dengan celemek hijau menutupi tubuhnya. “wuihhh masak dia, asiiiikkkkk” “hemmmmm wangi nian kak”

Bergegas yang disebut tamu melangkahkan kaki menuju dapur, apa yang telah dimasak tuan rumah untuk mereka. Dapur yang lapang dengan dinding kayu, terkesan kosong hanya dengan meja berukuran sedang dan dua kursi lipat. Dapur basah dan rak piring berjajar pada dinding sebelah kanan.
Sayur kangkung tumis  di kuali, ikan goreng di atas meja beserta beberapa potong tempe. Tuan rumah melanjutkan mengupas kacang goreng, hendak membuat bumbu petisan.
Tambahan ruangan setelah dapur, tetap lebar dan berdinding kayu. Dua ember cucian yang sedang direndam, barang barang tak terpakai di pojok kiri dan sumur besar melangkapi ruang belakang dengan pintu teralis besi. Terlihat pepohonan diluar.

“abang mane ?? ” tanya salah seorang tamu
“begawe” sahut tuan rumah
“sabtu dak libur, aok’
“aok”
“kalo malem malem romantis ya kak, bedue bae. Banyak suara jangkrik pule.. Syahdu ey”
“iya donk” semunya memerah

Cinta yang sederhana,seperti bangunan rumah ini. tapi kakak terlihat sangat bahagia, bahagia pada dapur dan masakan yang seadanya, bahagia pada rendaman cucian yang menunggunya, Bahagia pada kembang kembang mawar yang mekar dihalaman, Bahagia pada pagi pagi bekerja yang tergesa, pada sabtu waktu mengurus rumah, pada minggu yang akan dihabiskan sepenuh nya berdua dengan abang.

Sederhana, seperti minim nya perabot dan kosong ruangan yang menunggu kumpulan uang untuk dibelikan barang. Seperi selembar kain merah yang menghias pintu tamu mereka, tanda pengantin baru bagi pemilik rumah.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Wajah gadis Muda itu muram benar. Ia sepertinya dalam kesedihan dan masalah besar, mungkin yang terbesar sepanjang hidupnya.

Dadanya terasa menyempit, padahal di depannya, terhampar telaga yang dikepung bukit-bukit hijau. Kabut belum sepenuhnya terangkat.
Ibunya mendekat. “Kamu kenapa, kok mukanya ‘petak’ gitu?” Ia hanya menggeleng. Enggan menjawab. Si Ibu sadar, bukan waktunya untuk banyak bertanya. Lembut dia meraih tangan anaknya, menuntunnya ke dalam rumah. Di dapur, si ibu mengambil sebuah gelas, mengisinya dengan air hingga, melarutkan satu sendok penuh garam.
“Nih, minum.”
“Apa-apaan sih ma. Lagi suntuk nih, Yah!” sergahnya.
“Kamu mau ngga, suntuknya hilang. Ini nih ramuan ajaibnya.”
Dia kesal, sangat kesal. Tapi dia juga ingat ibunya selalu punya cara untuk membawanya ke tahap kearifan yang lebih tinggi, seperti selama ini.
“Wuaaks!” Dia hampir muntah. Larutan garam itu tak lagi asin, tapi sudah menjelang pahit saking asinnya.
“Asin kan?”
“Udah tau, nanya.”
Si Ibu dengan lembut kembali meraih tangan anaknya, setelah sebelumnya mengambil sesendok garam lagi. gadis muda  itu menurut saja, sambil sesekali meludah.
Di pinggir Telaga, ibunya menumpahkan sesendok garam tadi, kemudian menyuruh anaknya meminum air Telaga yang bening itu.
Ia tersenyum lebar, bukan karena kesegaran air telaga yang kini mengaliri kerongkongannya, tetapi karena ia kini mengerti sesuatu.
“Makasih, Ma ,” mengulurkan tangan, memeluk dan mengelendot seperti  sahabat dekat... " Saya MENCINTAIMU "


*****
SELAMA kita hidup di dunia, akan selalu ada sesendok garam persoalan hidup yang harus kita hadapi. Pertanyaannya adalah, apakah hati kita sekerdil gelas, sehingga asinnya terasa begitu dahsyat, atau seluas telaga hingga asinnya bahkan tak berbekas.
Air garam dalam gelas itu, tidak saja meracuni kita, tetapi juga membuat kita memuntahkan, kehilangan hal-hal baik yang sebelumnya sudah kita miliki. Namun jika punya hati seluas telaga, tak hanya garam persoalanmu, garam-garam orang lain di sekelilingmu pun bisa kamu larutkan tanpa susah payah untuk kemudian membagi kesegaran dan harapan ke sekitarmu.

Jelas kini, orang yang bahagia bukanlah mereka yang tak pernah punya persoalan, tetapi mereka yang mampu melarutkan persoalan dengan keluasan dan kejernihan telaga hatinya.
Tak ada orang yang ditakdirkan bahagia, tak pula ada yang dikutuk untuk menderita. Tetapi memang, seperti bakat lainnya, hati seluas telaga tak dimiliki setiap orang...
Ops, jangan putus asa dulu. Bukankah menurut penelitian terakhir, ada yang lebih penting dari bakat?
YUp. Tentu saja  LATIHAN!!! Dan Berdo'a Kepada sang Khalik .. Sutradara sang Kehidupan didunia ;) 
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar

Apa kabarmu hari ini ?
Aku nyaris lupa kapan terakhir ucapan ini terhenti diujung lidah
ketika hendak terpercik
Sepertinya nyaris sama dengan kapan tepatnya waktu kamu berhenti  menanyakan kabarku .. Iya kan ?
Aku mungkin sedikit tak baik dan sunyi meremang didalam sini
tidak ada yang baru dari keterpisahan
Kaca ini mengerikan
Memisah kau dan aku jadi dua orang yang asing satu sama lain
Aku tidak suka
Tapi nampaknya kamu suka .. iya Kan ?
Maka aku diam tanpa gerak memecah
Buktinya kamu membiarkan kaca ini berlapis jadi dinding
Kebersamaan kita sudah berubah jadi seperti kaca itu
yang mengurung Sososkmu tak lagi jernih meski tetap tak tersentuh
kamu jadi semakin jauh dan kabur seiring menebalnya kaca batas itu
kamu tahu , Kita tidak pernah sejauh ini
sejauh rentangan yang bisa dicapai
"kau"  dan "aku "

Apa kamu masih melihat mimpi mimpi yang sempat hinggap ?
Seperti halnya aku memimpikanmu , Nyaris setiap malam
aku pun tak tahu mengapa .. rasanya sakit sekali ketika bangun
dengan perasaan yang kelewat halus dan sendu begini  ..
harusnya kamu tiada , agar mimpi ini juga musnah.. Perih sekali , Andai saja kau tahu rasanya ... sayangnya kau kini adalah patung bernafas tak berhati ...

Kalimat yang selalu terucap hanya :
" Tuhan ajarkan Ikhlas lebih hebat dari ini ..."
Kumohonnn ya Allah ...  ku Mohon Ya Rabb ..
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Ow ow ..
Tulisan ku kayaknya agak ngangkat Topik berat kali ini ,
ini masalah serius tapinya , seorang istri , sebut saja istri bapak x dikantorku  selalu menelpon tak kurang dari 3 kali sehari ke kantor , hanya untuk memastikan suami nya masuk dan pulang tepat waktu , serta benar benar berada dikantor dan makan siang dikantin setiap harinya .. HEllooooo ??
Tapi ini memang serius , bukan becanda , sebagai Seorang " Operator " telpon kantor yang ngerangkap jadi sekretaris , tentu saja hal ini makin buat " semak " kerjaan ku setiap. Nambah puyeng , karna aku harus nyambungin dan mencari tau keberadaan bapak x itu setiap hari ..
Dan tentu saja , aku tahu inti dari masalah ini pasti tak lepas dari sebuah kata dahsyat bernama

" Selingkuh "
( Huammmm.. Ngantuk aku nyebutnya )

Ketika ngumpul Ngumpul ruangan ku yang kecil tapi adem ini , kadang aku iseng nanyakan sebuah pertanyan kepada bapak bapak dalam sela sela pembicaraan

" Kenapa Harus Selingkuh ??"

Huupp.. tentu saja bapak bapak itu akan diam sementara waktu dan dijawab dengan senyum simpul yang aneh terakhirnya ..

" Just menghilangkan kejenuhan Key , " Bgitu jawab mereka , jawaban yang bagiku adalah sebuah pengakuan , yah , saya memang sedang selingkuh .. Uhh... Mirisss ...
JENUHHH BosaaNNnn ,, .. kata apa sich itu ..??

Pernah baca sich aku ..
Kata Sir Cecil Beaton: ”Barangkali kejahatan terbesar kedua di dunia adalah kebosanan, dan yang nomor satu: menjadi orang yang membosankan!” Kebosananlah, bukan yang lain, yang menjadi virus penghancur hampir seluruh bentuk hubungan antarmanusia, membuat mimpi padam sebelum waktunya, memaksa orang mati sebelum ajalnya.

Kadang, seorang lelaki tidak bisa memberikan alasan yang kuat, bahkan alasan apapun, untuk berkhianat yah , untuk selingkuh tentu saja ..


Perempuan juga pernah sih, tapi frekuensinya jauh lebih kecil. Nah, jadi keinget: perempuan  punya karakter lebih setia dari pria, tetapi Tuhan tampaknya memberikan kemampuan lebih kepada wanita untuk menghadapi kebosanan. ^_< 

Buktinya kami perempuan  nyaman aja tuh membawa janin di kandungan selama 9 bulan penuh, sementara laki-laki, menggendong setengah jam aja udah ngeluh. 

Perempuan juga bisa betah di rumah untuk masa yang lebih panjang dari pria, yang satu hari saja sudah gelisah mau keluar rumah.

Jadi, cara mencegah lelakimu berselingkuh bukanlah dengan melakukan pengawasan melekat seperti menelepon 24 jam sehari , atau bahkan menanamkan sebuah chip di dompetnya, sehingga kau bisa melacak keberadaannya dengan GPS. 

Tapi temukan faktor yang membuatnya bosan. Kalau ternyata faktor itu adalah kamu sendiri,  ya udahlah… 
Kau sudah menyerahkan diri kepada seseorang yang tidak bisa menghargainya, dan dengan demikian, tidak layak mendapatkannya.

Like I said, mencintai sepenuh hati itu tidak sulit, yang sulit adalah tetap mencintai sepenuh hati, karena waktu adalah tantangan terbesar bagi cinta. Apalagi bila kebosanan sudah bergelantungan di pendulumnya, maka jarum jam akan melambat, melambat, melambat… Segalanya tiba-tiba memberat, bahkan kelopak mata pun seperti tak bisa lagi diangkat.  ( Hoammm .. saya NgantUkKkkk...>.<  Selingkuh Buat saya Ngantukk ,, Nah Lohh ?? :D ) 
hehehhe...


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Kedua lelaki itu berjalan tergesa. Yang satu terlihat tetap tenang, yang lainnya sangat gelisah, khawatir terhadap keselamatan sahabatnya itu, yang sedang diburu, hidup atau mati. Ketika gelap mulai menyelimuti bumi, mereka sampai di kaki sebuah bukit.


Keangkuhan bukit itu bahkan tetap tampak dalam gulita. Keduanya terus menapak, menanjak dalam sunyi, dan berhenti di mulut sebuah gua.

“Aku periksa dulu ke dalam ya,” kata lelaki yang khawatir itu. Gua itu memang dikenal dihuni aneka ular berbisa. Tapi mereka harus bermalam di sana, biar terlindung, baik dari cuaca maupun musuh yang siap memangsa.

Dalam kegelapan, ia menerobos sembari membersihkan jalan dari semak perdu yang merintang. Berikutnya dia dihadang oleh tumpukan batu. Merasa tidak bisa membedakan antara batu atau ular yang sedang menunggu mangsa, ia menyobek pakaiannya, sekadar melindungi tangannya ketika memindahkan batu-batu itu satu per satu.
Hampir seluruh pakaiannya telah tersobek. Ia sudah nyaris telanjang, tapi masih ada sebongkah batu yang belum dipindahkan. Tak ada pilihan lain, setengah takut, ia menyepak penghalang terakhir itu.

Kali ini, ia tak seberuntung sebelumnya. Ia terpatuk, darah menetes, bisa perlahan mulai menyebar ke seluruh nadinya. Tapi ia mengabaikannya.

“Sudah bersih, masuklah …”

Sahabatnya masuk. Ia begitu kelelahan akibat perjalanan panjang tadi, dan jatuh tertidur, lelap di pangkuan sang sahabat yang baru saja tersengat reptil berbisa itu.

Malam melarut, bisa itu pun makin merasuk, terasa menerobos ulu hati. Ia bertahan, tak ingin tidur sahabatnya sampai terganggu. Tapi selaku manusia, kemampuannya terbatas. Menjelang pagi, rintihan mulai tak tertahan ke luar dari mulutnya, tubuhnya yang tak lagi sempurna terbungkus busana menggigil makin kuat, dan air mata menahankan rasa sakit itu menetes makin deras.

Lelaki itu terbangun dari lelapnya. “Mengapa engkau menangis, tubuhmu juga menggigil. Ada apa?”
“Aku digigit ular,” rintihnya.
“Mengapa tak bilang dari tadi?”
“Aku takut mengganggu tidurmu.”

Lelaki yang digigit ular itu bernama Abu Bakar Shiddiq, dan yang tidur di pangkuannya itu, sahabat terdekatnya, Nabi Muhammad SAW. 

Sahabat : " Hiduplah di sana, bagi tawamu dengan siapa saja. Tangismu biar untukku.. "

" Abu Bakar tidak perlu mengirimkan kartu ucapan setiap hari kepada Muhammad, berisi ungkapan betapa dia mencintai dan peduli padanya. Tapi di kegelapan gua itu, cinta itu hadir, mewujud, menyentuh langsung ke jiwa"
*****
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


KAU TAK DAPATKAN SEMUANYA?
BELUM TENTU HIDUPMU TAK INDAH, KAWAN!
KARENA DI DUNIA INI TAK ADA YANG SEMPURNA


"mungkin kita tak sempurna tapi menjadi diri sendiri itu buat kita semakin sempurna"
 
Sudahkah kau jadi dirimu sendiri 
hari ini?
  
* Untuk para Perempuan  yang Belum Merasa sempurna... 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Laki-laki itu pernah bahagia

Laki-laki itu pernah bahagia
Dulu ia pernah merasakan, bagaimana menggenggam cahaya yang mewah berkilauan.
Kini ia hanya bisa menyimpannya dalam botol kosong.
Lalu menatapnya, bila ia merasa ingin.
Ia tidak terlalu ingin bahagia lagi.

Mungkin menatap kilauan cahaya di botol kosong cukup baginya.
Kilauan cahaya indah di botol kosong menyerupai sebentuk ular putih.
Bersisik lurik batik parang.
Tapi kalau dilihat lebih dekat lagi, sebenarnya ular itu tidak berwarna putih polos.
Ada garis hitam di setiap pinggir sisiknya.
Hanya segaris hitam yang sangat tipis, tapi memisahkan warna sisik putih satu dengan sisik putih lainnya.


Laki-laki itu pernah bahagia.
Kala dulu ia bisa bermain-main dengan cahaya mewah berkilauan yang menyerupai ular putih. Biasanya cahaya itu ia ajak bermain kemanapun ia pergi. Sesungguhnya ia sangat bahagia bisa menggenggam cahaya itu.
Ia akan memamerkan pada sesiapapun yang ada di hadapannya.
“Lihat cahayaku, indah bukan?”
Setiap ia bertemu teman baru atau lama, kalimat itu akan selalu terlontar dari mulutnya sambil menjulurkan tangannya yang dilibat cahaya.
“Aku tidak akan pernah menemukan cahaya yang lebih indah dari ini.”

Laki-laki itu pernah bahagia.
" Hanya Pernah "
Mungkin Hanya pernah dan tidak terlalu ingin bahagia lagi.


Edo Wallad
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Dicermin itu aku melihat seorang perempuan
Matanya sayu dan pilu. wajahnya pucat pasi.
Dari auranya terbaca perempuan itu sedang memendam kesedihan yang sangat dalam. 
Sesekali memukuli dadanya agar kesedihan itu tidak berlanjut lagi.
Hatinya seperti ditusuk ribuan jarum.
Perempuan  itu memukuli dadanya semakin keras.
Penuh kebencian. Putus asa. Dibuang dan disisihkan,
hina dan tidak dikehendaki.
Ia menarik nafasnya dalam-dalam.
Matanya yang sayu tiba-tiba menatap nanar kearahku. 


Perempuan  itu bernama Luka.
Aku rebahkan tubuhku ke ranjang,
dan Perempuan  itupun lenyap dari cermin.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

Seorang Isteri dan Ibu biasa biasa saja, Bekerja Sebagai Ibu Rumah Tangga dan Akuntan BUMN , Welcome to My Virtual Home :)

TIME

Ikuti Kami di Medsos Lain yah !

  • Apresiasi Sastra
  • Blog Puisi
  • dakwah Muslimah
  • facebook
  • Google+
  • instagram
  • My Facebook
  • pinterest
  • Tanya Jawab Masalah Islam
  • twitter
  • youtube

Categories

  • Cerita Kehamilan
  • Cerita Keluarga
  • FIKSI
  • Menuju Jalan Menyetia
  • TAMBAHKAN CINTA

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • November 2018 (1)
  • September 2018 (1)
  • December 2013 (1)
  • May 2013 (5)
  • April 2013 (1)
  • March 2013 (2)
  • December 2012 (2)
  • October 2012 (2)
  • September 2012 (2)
  • July 2012 (1)
  • April 2012 (1)
  • February 2012 (1)
  • December 2011 (1)
  • November 2011 (7)
  • October 2011 (1)
  • September 2011 (1)
  • August 2011 (1)
  • July 2011 (7)
  • April 2011 (1)
  • March 2011 (1)
  • February 2011 (1)
  • January 2011 (1)
  • December 2010 (3)
  • November 2010 (3)
  • October 2010 (3)
  • September 2010 (4)
  • August 2010 (13)
  • July 2010 (12)
  • June 2010 (24)
  • May 2010 (26)
  • April 2010 (32)
  • March 2010 (19)
  • February 2010 (7)
  • January 2010 (1)
  • December 2009 (3)
  • November 2009 (3)
  • July 2009 (1)
  • April 2009 (3)
  • March 2009 (20)
  • February 2009 (2)
  • January 2009 (1)
  • December 2008 (5)
  • November 2008 (11)
  • March 2008 (1)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates