Powered by Blogger.

Pondok dan Halaman Tempat Bercerita :)

-Khairiah_p- Virtual Home




Setibanya waktu zuhur saya masih melihat ibu saya bangkit sholat zuhur, dan masih duduk berdoa,cuma rasanya agak pendek waktu sholatnya, biasanya ibu sholat dalam waktu yang lumayan lama dan berdoa juga dalam waktu yang lumayan lama, tetapi hari itu agak berbeda, kemudian selesai sholat ibu juga langsung baringan dikasur , nafasnya juga tidak stabil, saya semakin deq deqan namun setiap saya tawarkan ajakan untuk kerumah sakit ibu tidak berkenan, beliau bilang "dak lamak memang parasaan umak, malitak sajo, tidulah umak dulu, bekko jago tidu mungkin agak lamak badanko"

saya pun sudah mulai dag dig dug gak karuan, opsi yang bisa saya tawarkan ke umak cuma membawanya kerumah sakit, karna saya tidak memiliki alat apapun seperti oksigen dirumah

jam berdetak terus berdetak hingga sore magrib, Umak masih terlihat lelah seperti itu dan saya pun semakin galau tidak karuan, bagaimana tidak, saya cuma sendiri dirumah, suami saya saat itu sedang piket shift sore hingga malam dan dipastikan tidak pulang hingga esok pagi hari, kondisi umak semakin mengkhawatirkan, dan sedang tidak ada ART yang berhasil saya ajak tidur dirumah

setelah sholat isya umak pun mulai meningkat sesaknya dan masih juga tidak mau dibawa ke rumah sakit, saya pun sudah tidak sabaran, hingga akhirnya pas jam mau tidur saya udah mulai agak marah kenapa umak gak mau dibawa berobat, dan saya menangis, saya gak ada pertolongan apa apa disini umak tutur saya, saya nanti bagaimana jika semalaman ini umak bertambah sesaknya tutur saya, lalu kemudian melihat saya bercampur panik dan tangis umak pun mau diajak kerumah sakit, saya telepon Tulang saya yang di pandan dan "Oncu" begitu saya memanggilnya pun datang beserta istri dan Topa adik saya membopong umak dan membawa kerumah sakit pada pukul 22:00 WIB

Malam itu terasa panjang sekali, saya dirumah dan mereka di rumah sakit, saya dirumah karena tidak mungkin saya membawa 2 anak ke rumah sakit untuk tidur. saya hanya bisa berdoa dirumah, berdzikir dan memohon pertolongan Allah semoga kondisi umak segera membaik


Sabtu , 08 September 2018

Saya kemasi barang cepat cepat, ART saya masuk setengah Hari hari sabtu, jadi saya bisa kerumah sakit dari pagi hingga siang, kemudian berganti shift kembali dengan adik atau dengan Oncu
saya dapati kondisi umak dirumah sakit masih sangat lemah, masih mengenali saya, cuma nafasnya sangat tidak stabil, sebentar minta duduk sebentar minta baring kembali, sebentar minta sholat, cuma apapun yang dimintanya dia selalu tidak lupa berdzikir, entah itu Astaghfirullah, entah kalimah tahlil, Umak selalu mengucap itu, dzikir selalu, begituun saat serangan datang atau perasaannya semakin tak enak, dia pun dengan keras selalu meneriakkan kalimah tahlil

Hingga sabtu itu dokter Spesialis yang menangani umak mengatakan kondisi umak sangat buruk terlalu banyak cairan dalam tubuhnya, dikarenakan ginjalnya tidak mampu mengeluarkan air dengan baik dalam tubuh, jadi tindakan yang akan dilakukan dokter yang pertama adalah mengeluarkan cairan dalam tubuh umak secara bertahap, proses ini diberitakan oleh dokter tidak bisa dilakukan secara instan harus dilakukan perlahan demi perlahan dengan bantuan obat obatan.
Baiklah, saya menyetujui tindakan yang disarankan dokter, dan mengingat kondisi sesak umak juga rasanya tidak mungkin melarikan atau membawa ke medan untuk mendapatkan tenaga medis dan pengobatan yang lebih baik jika dimedan,

Disore hari sabtu kondisi umak ada tenangnya, sempat didatangi temannya, yaitu ibu teti, dan masih sempat berbincang panjang dengan temannya, dan sempat bertelepon dengan adik saya titti, masih bisa nyambung diajak ngomong ditelepon saya sangat senang dengan kondisi umak yang agak tenang pada saat itu, namun kondisi itu kembali menurun saat temannya pulang dan mulai kembali meraung sesak kemudian minta dipakaikan mukena terus terusan , mulai sholat terus terusan. mulai mengigau tapi masih mengenali saya 




Minggu. 09 September 2018

Proses pengobatan umak terus berlangsung, namun sejak masuk rumah sakit perubahan yang saya rasakan sangat minim bahkan tidak ada sama sekali, kondisi umak tidak banyak membaik, biasanya umak ketika di rawat seperti sebelum sebelumnya, hari pertama masuk biasanya parah, namun hari kedua dan seterusnya udah mulai baikan perlahan demi perlahan, dan biasanya hari ketiga keempat sudah minta pulang karna merasa sudah enakan dan marsak dengan hawa rumah sakit, namun kali ini kondisi umak berbeda, pada hari kedua semakin parah, mulai mengigau dan  tidak mau makan apapun yang saya bawakan, saya bawakan kue talam di pagi senin, dan makanan makanan yang biasanya dia sangat sukai, namun kali ini dia tidak ingin disuapi sama sekali.



(source Pic : https://quranicquotes.com/2016/08/12/246-quran-al-mulk-1/)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sudah lama rasanya saya tidak menyampah disini, ditong sampah saya,
rumah untuk pikiran pikiran dan unek unek yang keluar masuk,
kadang bertahan sebentar sempat tertuliskan , kadang malah cuma lewat bersiliweran ,
tidak mampu hingga lebih lama,
saya paham, dengan kapasitas memory terlemah yang saya miliki,
mungkin berbagi dengan tulisan akan membuat saya menyimpan banyak hal lebih lama.

kemarin beberapa teman teman yang sesekali memantau pergerakan tulisan saya menanyakan ,
"kok nggak Update Blog lagi ? "
#jlep, saya merasa memang telah banyak yang saya tidak bagi di blog ini ,
kadang bahkan teringat untuk menuliskan beberapa kata dipagi hari,
namun ketika siang sudah terlupa, begitu seterusnya, maafkan saya

tapi siang ini saya ingin membagi sesuatu,
tentang sekelumit simpul simpul pikiran saya hari ini
tentang waktu yang bergerak, melaju, tiada sekejap pun memberi kita jeda, istirahat, bahkan hanya untuk melihat semuanya berhenti dalam hitungan detik, pun tidak !!

dari tahun Pengalaman membuat kita belajar. Hal-hal baru membuat kita mengenali.
Tahun demi tahun berubah, berganti, semestinya kita semakin piawai untuk mengakali hidup.
Lebih pintar harusnya  mengatasi situasi-situasi mirip yang seolah berulang.
Lebih cerdik membatasi diri. Lebih paham apa yang harusnya dikatakan, dilakukan, diikuti, ditinggalkan.Harusnya. sih ,
Saya, khairiah Panggabean , wanita ?? perempuan !!  21  tahun  baru-baru ini.
Sempat memberikan semua hidup saya untuk sesuatu yang bahkan sekarang apa namanya saya tidak tahu.
Tapi itu sudah lewat, semestinya sudah berlalu, sudah berganti.
karena hari terus berganti, manusia terus berputar di dunia, pagi berubah siang, lalu malam.
Melepaskan, merelakan, melupakan. Satu demi satu saya lakukan.
Sekarang saatnya meninggalkan, meninggalkan tanpa kekuatiran.
tanpa pikiran yang melantur bagaimana jika ini itu. lepas saja. tinggalkan saja.

Beberapa hari belakangan ini, saya menikmati kota ini, dengan cara yang berbeda.
Melakukan rutinitas yang berbeda setiap pagi.
Tidak menyapu mess 2 kali  lagi sebelum berangkat kerja  .
duduk saja menyeruput teh hijau dimeja tinggi menghadap jendela , diam saja,
melantunkan dzikir pagi sesekali, memandangi gambar orang tua saya sesekali dikamar,
sambil sesekali mengajak ngobrol burung-burung di tepi jendela yang setia luar biasa tiap pagi membangunkan saya. sementara yang pernah saya begitu sayangi meninggalkan semuanya.
Yang pernah begitu berharga  Apa rasanya?


Pahit bah rasanya.
Segala bentuk ucapan yang tertulis  waktu itu begitu  dalam.
setidaknya buat saya , saya menuliskannya dengan hati yang berantak ,
berserak dan berusaha menyusun satu satu lagi.

Setahun lalu malah lebih parah , Saya kehilangan fokus. Iya. Hilang fokus. Berkali-kali menengok ke belakang, lalu kembali ke depan.
Mengambil gambar diam-diam, lalu menghapusnya lagi. Benar-benar kacau.
Salahnya bukan aroma kebebasan yang saya hirup, hanya sedikit semangat yang timbul tenggelam.
Naik turun, seperti irama lagu di playlist.
dulu juga, iya, setahun sebelum ini  saya jadi bertanya, yang menciptakan saya itu, apa rasanya ketika melihat saya begini. yah ? seperti boneka terbuang, berantakan , acak acakan
Apa dia sekarang sedang senang, lalu  menggumam pelan ; rasakan..!!!
atau sekarang dia sedang menuangkan waktu mempelajari saya. melihat gerak gerik saya dengan seksama. memperhatikan. mengambil gambar sesekali. wajah saya, tangan saya. mendengarkan pikiran saya. sesekali memancing saya berbicara sendiri ke udara.Memperhatikan saja dengan seksama. Terus terang saya penasaran. Sedang apa Dia. Iya yang diatas Sana , apa yang sedang dia takdirkan untuk saya setahun lalu itu.

lantas sekarang ? sekarang saya bahkan belum menyadari , bahwa waktu dari saya berantakan hingga hari ini sudah setahun lebih , hampir dua tahun.

Jadi beginilah saya. perempuan dua puluh satu tahun yang sedang berdiri ditengah masa lalu dan masa depan.
Hilang fokus, naik turun, dan sedang dicobai kenangan dan harapan.

Lalu?

biar saja,
katanya waktu menyembuhkan semuanya.
ikuti saja permainannya. lempar dadunya. mainkan.
Kalau kalah?
pulang saja, seperti saya, kembali ke sesatu yang menjadikan saya bertubuh dari darah dan daging.
kalau menang ?
saya hanya berhapa yang Diatas Sana Itu berbaik hati
memberi saya sosok yang bisa memeluk saya setiap hari dengan hangat yang sama
dan menikmati 30 detik sampai 1 menit  pelukannya itu
yang bahagianya memenuhi kebutuhan sehari.
merasakan lembutnya dia.
mencium aroma rambutnya.
melihat senyumnya.
mengecup mata terpejamnya.
menyentuh sela-sela jemarinya.

itu saja Tuhan.
tapi setiap hari.
Share
Tweet
Pin
Share
6 komentar



Menunggumu adalah
tanah yang tabah menadah deras hujan.
Setia mendaraskan puisi dengan senyuman.
Meneteskan basah di samarsamar tangisan.
Sebab hanya dengan puisi aku dapat menemuimu dalam ketiadaan. 
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Dua belas februari ,
Langkah kedua ketempat itu setelah saya beranjak dewasa
ke titik terujung sebuah pemakaman , balimbingan , tanah jawa , siantar , kabupaten simalungun
Titik terujung , ini  tentang orang yang ingin saya temui. Secepatnya, atau kapanpun memungkinkan.
Orang yang bahkan bayangannya saja belum pernah saya tahu
seberapa gelap atau terang dia , bagaimana raut wajahnya , rahang pipinya .
dia yang senyumnya cuma pernah saya lihat beberapa kali di foto kusam di dompet ayah  saya.
Ini catatan tentang nenek saya,
ibu dari ayah  saya,
yang meninggal saat ayah saya berusia 12 tahun

sebuah nisan , bertuliskan "Maimunah Harahap" iya.. itu nisan nenek saya
nenek yang tidak pernah saya lihat , senyum, bergerak-gerak, berjalan, makan,
apapun itu, saya mau.
saya mau lihat kamu nek , sekali saja 

Kamu tahu tidak, ayah saya , anakmu, dan uda-uda saya , tumbuh dibesarkan kakak-kakak mu
berpindah asuhan , setiap kali salah satu merasa terlalu berat menafkahi mereka karena anaknya yang bertambah.
3 anakmu meninggal diusia remaja nek , abang abang ayah saya itu meninggal , mereka menyusulmu nek
mereka meninggal karena sakit , karena terlalu keras bekerja , lebih tepatnya , karena mereka ingin segera bersamamu

lalu ayah saya  menetap di rumah kakak mu yang tertua , hingga remaja
merantau kejakarta , medan menjadi tempatnya bersekolah , dan kemudian mengikuti hatinya ke barus
bertemu ibu saya , mereka menikah. 
kamu tentu tidak berada disisi ayah saya di momen terpentingnya itu.

Figur ibu yang ayah saya cari waktu itu , dia bentuk sendiri nek
karena dia hanya melihatmu hinga 12 tahun , ingatan yang jika sekarang dikenangnya
hanya seperti fragmen abu abu
Dia mencarimu, mengunjungimu setiap ada waktu,
apa yang dia mau nek , mungkin sama dengan saya,
melihat kamu, mendengar kamu, sekali saja.

Jadi inilah dia, kamu orangnya, saya ingin bertemu dengan kamu nek
untuk berterimakasih telah memberikan kepada saya ayah  yang saya punya sekarang,
untuk membiarkan dia tumbuh dengan caranya sendiri,
untuk memberikan ayah yang melarang saya memotong rambut ,
karena menurutnya , rambut saya serupa dengan rambutmu dulu

Darahmu ada di seperempat darah saya nek ,
secara genetik saya punya sedikit bagian darimu,
entah bagian mana, tapi saya tahu kamu ada disini,
di dekat tulang rusuk, berdetak teratur,
rutin ada disana, kamu, bagian yang hilang dari masa lalu saya,
kamu yang hilang ketika saya mendongakkan mata melihat dunia
kamu yang hilang ketika saya belajar mengeja nama ,
tak sempat memanggilmu dengan sebutan nenek , oma , eyang atau apalah
kamu, yang hilang momen ketika saya lulus dari sekolah sekolah saya terdahulu
kamu, yang entah sudah dimana sekarang ketika saya mencari kamu saat ini.

Kamu,
yang saya belum kenal,
tapi saya sayang.
Saya rindu.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ketahuilah hai kamu
bahwa semua akan baik-baik saja, pada saatnya nanti.
Bahwa nanti aku dan tentu saja kamu  akan bersinar lagi, tertawa lagi,
menemukan hal-hal yang aku dan kamu senangi lagi
walaupun tidak dalam konteks kita 
Pasti tidak lama lagi.

Temukan orang yang sayang kepadamu,
sesayang aku dulu padamu,
dan kamu akan baik-baik saja.
Bahagia

Ajari dia cara menyayangi kamu, itu jangan kamu lewatkan lagi.
Seperti kamu melewatkan mengajari aku dulu.
Supaya dia tahu, bagaimana persisnya cinta yang kamu inginkan.
Buat dia memahami, tentang kebutuhanmu akan keleluasaan dan apapun yang lainnya,
karena aku gagal mengerti. atau kamu yang tak pernah melihat aku mengertimu

Temukan orang yang satu visi tentang cinta denganmu.
Karena kita tidak.

Karena untukku, saling menyayangi,
berarti saling membutuhkan,
dua pihak, permainan tim.
kalau sendirian, aku kewalahan.

Temukan orangnya, yang bisa memperlakukanmu lebih baik, lebih baik dari aku
sesuai dengan yang kamu inginkan.
Yang lebih dewasa, lebih sabar, dan punya ingatan yang lebih kuat.
Karena aku gagal mengerti itu. atau kamu yang gagal melihat itu dari aku

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Tenyata Tuhan ingin terus mengajari saya arti kehilangan ya kan TUHAN ? 
ahh .. setahun ini entah sudah berapa kali Engkau Buat saya Tak percaya Tuhan , kalau Engkau sepenuhnya ada disamping saya , Padahal disetiap desahan , Tak Putus Dzikir saya PadaMU 
kemarin lagi lagi engkau mengajari  saya pelajaran kehilangan , yah .. Engkau membuat saya sakit Tuhan ,
Rasanya tak perlu selama ini , JIka Engkau ingin Mengubur saya Hidup Hidup 
Sekali lagi saya hambaMu yang lemah , Maaf untuk berhenti mencintaimu secara sempurna dalam waktu dekat ini, 
Saya Memang butuh bukti KeajaibanMU , 
Karna saya Mulai meragu akan saya Yang Mengingatmu 
Tapi Engkau Lupa pada saya .. HambaMu ..

~ SIALAN ~ !!!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

Seorang Isteri dan Ibu biasa biasa saja, Bekerja Sebagai Ibu Rumah Tangga dan Akuntan BUMN , Welcome to My Virtual Home :)

TIME

Ikuti Kami di Medsos Lain yah !

  • Apresiasi Sastra
  • Blog Puisi
  • dakwah Muslimah
  • facebook
  • Google+
  • instagram
  • My Facebook
  • pinterest
  • Tanya Jawab Masalah Islam
  • twitter
  • youtube

Categories

  • Cerita Kehamilan
  • Cerita Keluarga
  • FIKSI
  • Menuju Jalan Menyetia
  • TAMBAHKAN CINTA

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • November 2018 (1)
  • September 2018 (1)
  • December 2013 (1)
  • May 2013 (5)
  • April 2013 (1)
  • March 2013 (2)
  • December 2012 (2)
  • October 2012 (2)
  • September 2012 (2)
  • July 2012 (1)
  • April 2012 (1)
  • February 2012 (1)
  • December 2011 (1)
  • November 2011 (7)
  • October 2011 (1)
  • September 2011 (1)
  • August 2011 (1)
  • July 2011 (7)
  • April 2011 (1)
  • March 2011 (1)
  • February 2011 (1)
  • January 2011 (1)
  • December 2010 (3)
  • November 2010 (3)
  • October 2010 (3)
  • September 2010 (4)
  • August 2010 (13)
  • July 2010 (12)
  • June 2010 (24)
  • May 2010 (26)
  • April 2010 (32)
  • March 2010 (19)
  • February 2010 (7)
  • January 2010 (1)
  • December 2009 (3)
  • November 2009 (3)
  • July 2009 (1)
  • April 2009 (3)
  • March 2009 (20)
  • February 2009 (2)
  • January 2009 (1)
  • December 2008 (5)
  • November 2008 (11)
  • March 2008 (1)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates