Oleh Sapardi Djoko Damono
"Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata,
yang meluas bening siap menerima cahaya pertama,
yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,
yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini,
kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin
yang turun sangat perlahan dari nun di sana,
bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi
dan bibirnya di rambut, dahi dan bulu-bulu mataku
Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,
yang setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku
Aku mencintaimu,
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu
senyum mengundang mu melirik dengan mata... senyum mengundang mu untuk tertawa.. senyum mengundang mu bercerita,,, senyum mengundang mu melepas semua gelisah... karena senyum mengundangmu untuk merasakan indahnya menikmati hidup,,, tanpa perlu berduka lama.... biru,,, menenangkan,, memberi banyak gambaran yang luas tentang langit yang terbentang,,, luas sekali,, tak bisa dicari dimana pangkalnya,,, tapi kamu rasakan indah ketika dibawahnya..
Rabu, Agustus 18
Dalam Doaku
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar